POP IGI Kotabaru 2023

Pelaksanaan POP IGI Kab. Kotabaru Tahun Ke-3

BELAJAR

Memberikan "English Learning Atmosphere" kepada siswa adalah sebuah strategi pembelajaran terbaik.

POP IGI Kab. Kotabaru 2021

Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan melaksanakan Program Organisasi Penggerak 2021.

LEARNING BY PLAYING

Interesting teaching learning process wipes out "Phsycological Burden"

MGMP BERDAYA, GURU BERJAYA

Kelompok Kerja Guru sebagai media berbagi pengalaman, pegetahuan dan praktik baik pembelajaran.

Monday, September 7, 2026

Jumat Bastari : Strategi Menumbuhkan Budaya Positif SMAN 3 Banjarbaru

Ada satu hari dalam sepekan yang, jika kita mau jujur, sering kali hanya kita lewati sebagai jeda sebelum akhir pekan. Jumat datang, agenda menumpuk, dan kita buru-buru menuntaskannya agar bisa segera "lepas". Padahal, dalam banyak tradisi, Jumat justru dirancang untuk sebaliknya: bukan hari untuk kabur dari diri sendiri, melainkan hari untuk pulang kepadaNya.

Dari kegelisahan itulah gagasan Jumat Bastari — akronim dari Barasih, Sehat, Taqwa, dan Literasi — layak mendapat tempat lebih serius, bukan sekadar sebagai agenda seremonial sekolah, melainkan sebagai tawaran cara hidup.

Bukan Sekadar Kerja Bakti

Kita sudah cukup akrab dengan "Jumat Bersih": menyapu halaman, memungut sampah, sesekali mencabut rumput liar. Kegiatan semacam ini baik, tapi sering berhenti di permukaan — literal permukaan tanah yang kita bersihkan, tanpa menyentuh sesuatu yang lebih dalam. Bastari mencoba melangkah lebih jauh. Ia menempatkan kebersihan bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai pintu masuk menuju tiga hal lain yang justru lebih jarang dirawat bersamaan: kesehatan tubuh, kedekatan spiritual, dan literasi akal.

Di sinilah letak kegelisahan sekaligus tawaran dari Bastari. Kita terlalu sering memisahkan urusan raga, jiwa, dan akal ke dalam kotak-kotak program yang berbeda: ada hari kesehatan, ada program keagamaan, ada gerakan literasi — masing-masing berjalan sendiri-sendiri, jarang bertemu dalam satu ruang dan waktu yang sama. Bastari justru mempertemukan semuanya dalam satu hari, seolah berkata: manusia tidak bisa dirawat sepotong-sepotong.

Empat Unsur, Satu Manusia Utuh

Bersih mengajarkan tanggung jawab atas ruang yang kita tempati — bahwa lingkungan yang layak tidak datang dari langit, melainkan dari tangan-tangan yang mau turun bersama. Sehat mengingatkan bahwa tubuh adalah kendaraan yang harus dirawat, bukan dieksploitasi sampai batasnya. Taqwa menghadirkan jeda spiritual di tengah rutinitas yang serba cepat, ruang untuk bertanya "untuk apa semua ini" sebelum kembali berlari mengejar target. Dan Literasi — inilah yang menurut saya menjadi unsur paling berani dan paling dibutuhkan zaman ini — menempatkan kebiasaan membaca dan menulis sebagai bagian dari perawatan diri, setara pentingnya dengan sholat Jumat atau senam pagi.

Kombinasi ini tidak biasa, dan justru di situlah kekuatannya. Banyak program serupa berhenti di tiga unsur pertama. Literasi jarang disandingkan dengan agenda kebersihan dan kesehatan, seolah membaca adalah urusan terpisah, milik ruang kelas atau perpustakaan saja. Bastari menolak pemisahan itu. Ia menegaskan bahwa akal yang tidak diasah sama berbahayanya dengan lingkungan yang kotor atau tubuh yang sakit — hanya saja dampaknya lebih senyap, lebih lambat terlihat, dan karena itu lebih mudah diabaikan.

Kritik yang Perlu Diajukan

Namun gagasan sebagus apa pun bisa layu jika hanya menjadi seremoni. Risiko terbesar Bastari adalah menjadi rutinitas administratif: absen kerja bakti dicatat, sholat Jumat dihitung kehadiran, pojok baca dibuka lima belas menit lalu ditutup lagi tanpa bekas. Jika ini yang terjadi, Bastari akan bernasib sama seperti banyak program "hari-hari nasional" lain — ramai di awal, sepi setelah beberapa bulan, lalu hanya tersisa sebagai poster di mading.

Supaya tidak berakhir demikian, Bastari perlu dijaga dari dua sisi. Pertama, dari sisi makna: setiap kegiatan harus terus dikembalikan pada pertanyaan "untuk apa", bukan sekadar "apa yang harus dilakukan hari ini". Kerja bakti tanpa refleksi hanya menyapu debu, bukan menyapu sikap acuh tak acuh terhadap lingkungan. Kedua, dari sisi keberlanjutan: program ini butuh pemilik yang konsisten, bukan sekadar panitia musiman, agar empat unsurnya benar-benar mengakar, bukan sekadar mekar sesaat lalu layu.

Mengapa Ini Layak Diperjuangkan

Di tengah dunia yang mendorong kita untuk terus produktif, terus terkoneksi, dan terus bergerak cepat, Jumat Bastari menawarkan sesuatu yang justru terasa melawan arus: berhenti sejenak untuk merawat empat hal paling mendasar dalam hidup manusia — ruang, tubuh, jiwa, dan pikiran. Ia tidak muluk-muluk menjanjikan perubahan besar dalam semalam. Yang ditawarkan lebih sederhana sekaligus lebih sulit: konsistensi kecil yang diulang setiap pekan, sampai akhirnya menjadi karakter, bukan sekadar agenda.

Barangkali itulah ukuran keberhasilan sejati sebuah program: bukan seberapa ramai ia dirayakan di hari pertama, melainkan seberapa jauh ia masih dijalankan ketika tidak ada lagi yang mengawasi. Jika Jumat Bastari bisa sampai ke titik itu — ketika bersih, sehat, taqwa, dan literasi berjalan bukan karena instruksi, melainkan karena sudah menjadi kebiasaan — maka gagasan ini bukan lagi sekadar akronim yang indah di atas kertas, melainkan cara hidup yang benar-benar memanusiakan kembali penggunanya.