POP IGI Kotabaru 2023
Pelaksanaan POP IGI Kab. Kotabaru Tahun Ke-3
BELAJAR
Memberikan "English Learning Atmosphere" kepada siswa adalah sebuah strategi pembelajaran terbaik.
POP IGI Kab. Kotabaru 2021
Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan melaksanakan Program Organisasi Penggerak 2021.
LEARNING BY PLAYING
Interesting teaching learning process wipes out "Phsycological Burden"
MGMP BERDAYA, GURU BERJAYA
Kelompok Kerja Guru sebagai media berbagi pengalaman, pegetahuan dan praktik baik pembelajaran.
Monday, September 14, 2026
Monday, September 7, 2026
Jumat Bastari : Strategi Membangun Karakter Positif SMAN 3 Banjarbaru
Ada satu hari dalam sepekan yang, jika kita mau jujur, sering kali hanya kita lewati sebagai jeda sebelum akhir pekan. Jumat datang, agenda menumpuk, dan kita buru-buru menuntaskannya agar bisa segera "lepas". Thanks God, It's Friday! menjadi takarir maupun cerita yang membanjiri unggahan berbagai platform media sosial. Padahal, dalam banyak tradisi, Jumat justru dirancang untuk sebaliknya: bukan hari untuk kabur dari diri sendiri, melainkan hari untuk pulang kepadaNya.
Dari kegelisahan itulah gagasan Jumat Bastari — akronim dari Barasih, Sehat, Taqwa, dan Literasi — layak mendapat perhatian dan dukungan dari ekosistem pendidikan di SMAN 3 Banjarbaru, bukan sekadar sebagai agenda seremonial sekolah, melainkan sebagai tawaran cara hidup (way of life) karena membangun karakter positif murid merupakan salah satu tujuan pendidikan yang utama.
Pembangunan karakter (charater building) dalam sebuah ekosistem besar tentunya memiliki tantangan dan konsekuensi tersendiri. Karakter ditumbuhkan dengan cara menyemai benih-benih nilai kebajikan universal sedini mungkin. Kolaborasi menjadi kunci utama untuk menggerakkan sebuah ekosistem pendidikan agar memiliki dampak masif yang signifikan.
Kita sudah cukup akrab dengan "Jumat Bersih": menyapu halaman, memungut sampah, sesekali mencabut rumput liar. Kegiatan semacam ini baik, tapi sering berhenti di permukaan — secara literal permukaan tanah yang kita bersihkan, tanpa menyentuh sesuatu yang lebih dalam. Bastari mencoba melangkah lebih jauh. Ia menempatkan kebersihan bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai pintu masuk menuju tiga hal lain yang justru lebih jarang dirawat bersamaan: kesehatan tubuh, kecerdasan spiritual, dan literasi akal.
Di sinilah letak kegelisahan sekaligus tawaran dari Jumat Bastari. Kita terlalu sering memisahkan urusan raga, jiwa, dan akal ke dalam kotak-kotak program yang berbeda: ada hari kesehatan, ada program keagamaan, ada gerakan literasi — masing-masing berjalan sendiri-sendiri, jarang bertemu dalam satu ruang dan waktu yang sama. Bastari justru mempertemukan semuanya dalam satu hari, seolah berkata: manusia tidak bisa dirawat sepotong-sepotong.
Empat Unsur, Satu Profil Manusia Utuh
Bersih mengajarkan tanggung jawab atas ruang yang kita tempati — bahwa lingkungan yang layak tidak datang dari langit, melainkan dari tangan-tangan yang mau turun bersama. Sehat mengingatkan bahwa tubuh adalah kendaraan yang harus dirawat, bukan dieksploitasi sampai batasnya. Taqwa menghadirkan jeda spiritual di tengah rutinitas yang serba cepat, ruang untuk bertanya "untuk apa semua ini" sebelum kembali berlari mengejar target capaian kurikulum. Dan Literasi — inilah yang menurut saya menjadi unsur paling berani dan paling dibutuhkan zaman ini — menempatkan kebiasaan membaca dan menulis sebagai bagian dari perawatan diri, setara pentingnya dengan religiusitas atau kebugaran tubuh.
Kombinasi ini tidak biasa, dan justru di situlah kekuatannya. Banyak program serupa berhenti di tiga unsur pertama. Literasi jarang disandingkan dengan agenda kebersihan dan kesehatan, seolah membaca adalah urusan terpisah, milik ruang kelas atau perpustakaan saja. Bastari menolak pemisahan itu. Ia menegaskan bahwa akal yang tidak diasah sama berbahayanya dengan lingkungan yang kotor atau tubuh yang sakit — hanya saja dampaknya lebih senyap, lebih lambat terlihat, dan karena itu lebih mudah diabaikan.
Evaluasi dan Refleksi adalah Esensi
Namun gagasan sebagus apa pun bisa layu jika hanya menjadi seremoni belaka. Risiko terbesar Bastari adalah menjadi rutinitas administratif: absen kerja bakti dicatat, membaca kitab suci dihitung kehadiran, membaca teks sastra dan informasi dibuka sepuluh menit lalu ditutup lagi tanpa bekas. Jika ini yang terjadi, Bastari akan bernasib sama seperti banyak program "inovatif dan transformatif" lain — ramai di awal, sepi setelah beberapa bulan, lalu hanya tersisa sebagai poster di mading sekolah.
Supaya tidak berakhir demikian, Bastari perlu dijaga dari dua sisi. Pertama, dari sisi makna: setiap kegiatan harus terus dikembalikan pada pertanyaan "untuk apa", bukan sekadar "apa yang harus dilakukan hari ini". Kerja bakti tanpa refleksi hanya menyapu debu, bukan menyapu sikap acuh tak acuh terhadap lingkungan. Kedua, dari sisi keberlanjutan: program ini butuh pemilik yang konsisten, bukan sekadar panitia musiman, agar empat unsurnya benar-benar mengakar, bukan sekadar mekar sesaat lalu layu.
Mengapa Ini Layak Diperjuangkan
Di tengah dunia yang mendorong kita untuk terus produktif, terus terkoneksi, dan terus bergerak cepat, Jumat Bastari menawarkan sesuatu yang justru terasa melawan arus: berhenti sejenak untuk merawat empat hal paling mendasar dalam hidup manusia — ruang, tubuh, jiwa, dan pikiran. Ia tidak muluk-muluk menjanjikan perubahan besar dalam semalam. Yang ditawarkan lebih sederhana sekaligus lebih sulit: konsistensi kecil yang diulang setiap pekan, sampai akhirnya menjadi karakter, bukan sekadar agenda.
Barangkali itulah ukuran keberhasilan sejati sebuah program: bukan seberapa ramai ia dirayakan di hari pertama, melainkan seberapa jauh ia masih dijalankan ketika tidak ada lagi yang mengawasi. Jika Jumat Bastari bisa sampai ke titik itu — ketika bersih, sehat, taqwa, dan literasi berjalan bukan karena instruksi, melainkan karena sudah menjadi kebiasaan — maka gagasan ini bukan lagi sekadar akronim yang indah di atas kertas, melainkan cara hidup yang benar-benar memanusiakan kembali penggunanya.
Tuesday, November 12, 2024
Miskonsepsi IKM Salah Satu Fokus Pengimbasan Fasilitator Daerah IKM Kotabaru
Saturday, May 20, 2023
IGI Kab. Kotabaru : On Service Penguatan Guru dan Kepala Sekolah
Program Organisasi Penggerak (POP) yang dilaksanakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Kotabaru telah memasuki tahun ke tiga. IGI Kabupaten Kotabaru melaksanakan kegiatan "On Service Penguatan Guru dan Kepala Sekolah Program Organisasi Penggerak (POP) Ikatan Guru Indonesia (IGI) Tahun 2023" mulai tanggal 19 - 20 Mei 2023.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru sekolah sasaran dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran yang menitik beratkan pada kemampuan literasi dan numerasi siswa. Ada 12 sekolah sasaran Tingkat SD yang mengikuti kegiatan ini. Dalam satu sekolah terdapat 2 guru kelas dan 1 kepala sekolah yang turut serta mengikuti kegiatan ini.
Kegiatan "On Service" adalah tindak lanjut dari kegiatan "In Service" yang telah dilaksanakan sebelumnya di Hotel Grand Surya pada tanggal 9-11 April 2023. Kegiatan ini dilaksanakan di tiga titik sekolah sasaran antara lain SDN Dirgahayu 1, SDN Sungai Taib, dan SDS Muhammadiyah 2 Kotabaru. Kegiatan ini dihadiri pemantau dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kotabaru dan pemantau dari Pengurus Pusat (PP) IGI yaitu Tia Rizky Ferlina yang merupakan Bendahara Umum IGI pusat.
Pelaksanaan hari pertama dipusatkan di SDN Dirgahayu 1 dan SDN Sungai Taib. Kegiatannya adalah praktik pembelajaran literasi dan numerasi yang dilaksanakan oleh guru kelas 4 dan guru kelas 5. Setelah praktik pembelajaran diadakan sesi refleksi yang dipandu oleh fasilitator daerah guru kelas 4, Taufik Junaidie, S.Pd. dan fasilitator daerah guru kelas 5, H.Syahriani, S.Pd.,M.M. Sedangkan kegiatan hari ke dua dipusatkan di SDS Muhammadiyah 2 Kotabaru dengan agenda berbagi praktik baik yang disampaikan oleh kepala sekolah dan dipandu oleh fasilitator kepala sekolah, Budi Hartono, M.Pd.
Dalam penutupan kegiatan, ketua panitia POP sekaligus Ketua Daerah IGI Kab. Kotabaru, Dian Mardhika, S.Pd. menyampaikan harapan agar sekolah sasaran mampu menerapkan praktik baik yang telah dibagikan IGI melalui Fasda guna meningkatkan capaian kemampuan literasi dan numerasi siswa. Pada kesempatan itu juga disampaikan bahwa akan ada satu guru atau kepala sekolah model yang nanti akan diundang ke Jakarta untuk membagikan praktik baiknya di hadapan Mendikbud atau Dirjen di Kemendikbud.
Wednesday, April 12, 2023
Sinergi IGI dan Disdikbud Kab. Kotabaru Melalui POP 2023
Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Kotabaru melaksanakan Program Organisasi Penggerak (POP) di tahun ke-3 pada tahun 2023. Kegiatan yang bertajuk "In Service Penguatan Guru dan Kepala Sekolah Program Organisasi Penggerak Ikatan Guru Indonesia Tingkat SD Tahun 2023" ini menitik beratkan pada peningkatan kompetensi guru dalam merancang dan menyajikan pembelajaran yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan murid guna meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi.
Kadisdikbud Kabupaten Kotabaru, H. Selamat Riyadi, S.Pd., M.Ed. menyambut baik dan menyampaikan dukungannya terhadap program organisasi penggerak dan juga terhadap eksistensi IGI Kabupaten Kotabaru dalam melaksanakan kegiatan peningkatan kompetensi guru. Hal tersebut diungkapkan beliau saat membuka kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Grand Surya pada tanggal 9 April 2023.
Saturday, November 5, 2022
Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara
Murid bukanlah tabula rasa yang bisa kita paksa menjadi apa yang kita (manusia dewasa) inginkan. Murid adalah manusia merdeka yang berhak menentukan jalan hidupnya dengan tuntunan dari guru untuk memperbaiki laku hidupnya. Tugas guru bukanlah mendikte anak-anak sesuai tuntutan dan keinginan guru (manusia dewasa) tetapi justru bagaimana kita bisa menjadi tuntunan (pamong) bagi anak-anak didik sehingga mereka memiliki laku (budi pekerti, wawasan intelektual) yang baik.
Filosofi dan pemikiran Bapak Pendidikan Indonesia (Ki Hadjar Dewantara) sangat relevan dengan kondisi pendidikan yang kita cita-citakan bersama yaitu membangun manusia unggul seutuhnya, baik lahir maupun batin.
1. Pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara
Menurut Ki Hadjar Dewantara, Pengajaran (onderwijs) adalah pendidikan dengan cara memberi ilmu atau berfaedah untuk hidup anak-anak baik lahir maupun batin. Sedangkan pendidikan (opvoeding) secara umum didefinisikan sebagai tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak, dalam artinan menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia (individu) maupun sebagai sebagai anggota masyarakat.
Beliau juga menekankan bahwa pendidikan hanyalah tuntunan hidup. Jadi seharusnyalah kita tidak memaksakan keinginan kita sehingga menjadi tuntutan hidup bagi murid kita. Lebih jauh lagi menurut beliau, pendidkan cuma bisa menuntun tumbuhnya/hidupnya kekuatan-kekuatan itu agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya itu.
Ada tiga semboyan yang sangat dikenal sebagai tuntunan bagi para guru yaitu, Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Semboyan pertama, ing ngarsa sung tulada, memberi petunjuk bahwa seorang guru harus bisa menjadi suri tauladan (role model) bagi semua muridnya. Peran keteladanan sangatlah besar dan berdampak bagi murid karena anak akan sangat cepat dan kuat menirukan apa yang dilihat dan didengarnya, terutama dari seorang guru yang pastinya menjadi acuan murid dalam belajar. Semboyan ke dua, ing madya mangun karsa, memiliki makna guru harus bisa hadir di tengah-tengah murid sebagai penggugah semangat, motivasi dan inspirasi sehingga terbangun kehendak/kemauan murid untuk terus semangat belajar dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Semboyan ketiga, tut wuri handayani, memiliki makna bahwa guru harus bisa memberi dorongan moral dan semangat belajar dari belakang.
Anak-anak memiliki kodrat yang berbeda. Ada yang baik dan ada yang kurang baik. Seandainya kodrat mereka tidak baik sekalipun, tentu mereka perlu mendapat tuntunan agar semakin baik budi pekertinya dan mampu melepas segala macam pengaruh jahat. Tumbuh kembang murid diibaratkan tumbuh kembang tanaman. Mereka perlu dipupuk dan dirawat agar tumbuh menjadi tanaman yang baik. Petani/tukang kebun adalah perumpamaan bagi guru yang tugasnya merawat dan memelihara tanaman agar tumbuh dengan baik sesuai kodratnya.
Pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara harus senantiasa memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman. Setiap anak memiliki perbedaan kebutuhan dalam pendidikan yang juga dipengaruhi kondisi alam mereka. Antara anak-anak yang tinggal di daerah pesisir akan berbeda dengan anak-anak di daerah pegunungan, di daerah pedesaan maupun perkotaan. Suasana lingkungan alam sangat berbengaruh terhadap kebiasaan, adaptasi lingkungan, minat dan gaya belajar murid. sehingga perlu ada pendekatan yang berbeda pula dalam memberi tuntunan terhadap murid. Lebih jauh lagi, diperlukan strategi yang berbeda pula untuk memberikan bimbingan terhadap murid di kelas. Istilah "berdiferensiasi" dalam kegiatan belajar di kelas juga mutlak diperlukan terhadap kondisi murid yang beragam juga di setiap kelas.
Oleh karena itu, melibatkan nilai-nilai kearifan lokal dalam pendidikan juga sangat diperlukan. Dengan keterlibatan nilai sosial budaya setempat maka pendidikan akan dihadirkan sesuai kebutuhan yang benar-benar di perlukan dalam kehidupan nyata (kontekstual). Sejalan dengan hal ini, Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih budaya. Selain itu, memperhatikan kondisi zaman saat ini adalah salah satu hal yang harus dipertimbangkan dengan bijak. Anak-anak generasi saat ini sangat dekat sekali dengan teknologi informasi dan komunikasi. Tak heran bila sentuhan teknologi menjadi hal yang sangat akrab dalam setiap aspek kehidupan mereka. Ditambah lagi tantangan globalisasi saat ini perlu menjadi perhatian khusus bagi para pendidik untuk mempersiapkan anak didik kita dengan kecakapan abad 21.
2. Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara
Setelah membaca dan menghayati pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai pendidikan, saya sebagai seorang guru merasa perlu melakukan perubahan dasar dalam memberikan pelayanan pendidikan kepada murid-murid di sekolah. Perlu merubah pola pokir kita bahwa saya harus mampu dan mau menghamba pada murid. Dalam artian, saya harus bisa memberikan pelayanan untuk memerdekakan murid dalam belajar di sekolah. Saya harus mampu membaca kebutuhan murid dalam belajar karena setiap murid meiliki gaya belajar dan kebutuhan yang berbeda anatara satu dengan yang lainnya.
Oleh karena itu, saya akan melakukan asessmen diagnostik untuk mengetahui kebutuhan belajar murid yang berbeda dan mengetahui gaya belajar murid yang beragam. Dengan proses ini saya berharap bisa memberikan pelayanan kepada murid dengan maksimal. Selain itu, saya akan lebih banyak mendengar dan mengurangi hukuman-hukuman di ruang belajar. Membuat kesepakatan bersama mengenai proses kegiatan belajar mengajar bukan aturan yang saya buat dan harus ditaati murid seperti sebelumnya.
Selain itu, saya akan lebih memperhatikan masalah kodrat alam dan kodrat zaman dalam setiap aktivitas belajar mengajar. Berusaha menghadirkan kegiatan belajar mengajar yang lebih kontekstual dan akrab dengan kehidupan murid. Saya akan lebih banyak melibatkan kondisi alam daerah pesisir dimana saya mengajar. Misalnya, membuat materi tentang teks deskripsi laut, tempat wisata bahari, dan prosedur pembuatan makanan khas daerah Melibatkan nilai-nilai sosial budaya ke dalam pembelajaran di kelas. Saya juga harus membuat ruang belajar sebagai tempat yang menyenangkan bagi murid untuk bermain dan belajar, berkolaborasi dan menggali pengetahuan dengan melibatkan teknologi, misalnya bermain scrabble online untuk meningkatkan kosakata (vocabulary) dalam Bahasa Inggris.



















