POP IGI Kotabaru 2023

Pelaksanaan POP IGI Kab. Kotabaru Tahun Ke-3

BELAJAR

Memberikan "English Learning Atmosphere" kepada siswa adalah sebuah strategi pembelajaran terbaik.

POP IGI Kab. Kotabaru 2021

Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan melaksanakan Program Organisasi Penggerak 2021.

LEARNING BY PLAYING

Interesting teaching learning process wipes out "Phsycological Burden"

MGMP BERDAYA, GURU BERJAYA

Kelompok Kerja Guru sebagai media berbagi pengalaman, pegetahuan dan praktik baik pembelajaran.

Saturday, November 5, 2022

Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

                                     

        Murid bukanlah tabula rasa yang bisa kita paksa menjadi apa yang kita (manusia dewasa) inginkan. Murid adalah manusia merdeka yang berhak menentukan jalan hidupnya dengan tuntunan dari guru untuk memperbaiki laku hidupnya. Tugas guru bukanlah mendikte anak-anak sesuai tuntutan dan keinginan guru (manusia dewasa) tetapi justru bagaimana kita bisa menjadi tuntunan (pamong) bagi anak-anak didik sehingga mereka memiliki laku (budi pekerti, wawasan intelektual) yang baik.

        Filosofi dan pemikiran Bapak Pendidikan Indonesia (Ki Hadjar Dewantara) sangat relevan dengan kondisi pendidikan yang kita cita-citakan bersama yaitu membangun manusia unggul seutuhnya, baik lahir maupun batin. 

1. Pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara

        Menurut Ki Hadjar Dewantara, Pengajaran (onderwijs) adalah pendidikan dengan cara memberi ilmu atau berfaedah untuk hidup anak-anak baik lahir maupun batin. Sedangkan pendidikan (opvoeding) secara umum didefinisikan sebagai tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak, dalam artinan menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia (individu) maupun sebagai sebagai anggota masyarakat.

        Beliau juga menekankan bahwa pendidikan hanyalah tuntunan hidup. Jadi seharusnyalah kita tidak memaksakan keinginan kita sehingga menjadi tuntutan hidup bagi murid kita. Lebih jauh lagi menurut beliau, pendidkan cuma bisa menuntun tumbuhnya/hidupnya kekuatan-kekuatan itu agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya itu.

        Ada tiga semboyan yang sangat dikenal sebagai tuntunan bagi para guru yaitu, Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Semboyan pertama, ing ngarsa sung tulada, memberi petunjuk bahwa seorang guru harus bisa menjadi suri tauladan (role model) bagi semua muridnya. Peran keteladanan sangatlah besar dan berdampak bagi murid karena anak akan sangat cepat dan kuat menirukan apa yang dilihat dan didengarnya, terutama dari seorang guru yang pastinya menjadi acuan murid dalam belajar. Semboyan ke dua, ing madya mangun karsa, memiliki makna guru harus bisa hadir di tengah-tengah murid sebagai penggugah semangat, motivasi dan inspirasi sehingga terbangun kehendak/kemauan murid untuk terus semangat belajar dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Semboyan ketiga, tut wuri handayani, memiliki makna bahwa guru harus bisa memberi dorongan moral dan semangat belajar dari belakang. 

        Anak-anak memiliki kodrat yang berbeda. Ada yang baik dan ada yang kurang baik. Seandainya kodrat mereka tidak baik sekalipun, tentu mereka perlu mendapat tuntunan agar semakin baik budi pekertinya dan mampu melepas segala macam pengaruh jahat. Tumbuh kembang murid diibaratkan tumbuh kembang tanaman. Mereka perlu dipupuk dan dirawat agar tumbuh menjadi tanaman yang baik. Petani/tukang kebun adalah perumpamaan bagi guru yang tugasnya merawat dan memelihara tanaman agar tumbuh dengan baik sesuai kodratnya.

       Pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara harus senantiasa memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman. Setiap anak memiliki perbedaan kebutuhan dalam pendidikan yang juga dipengaruhi kondisi alam mereka. Antara anak-anak yang tinggal di daerah pesisir akan berbeda dengan anak-anak di daerah pegunungan, di daerah pedesaan maupun perkotaan. Suasana lingkungan alam sangat berbengaruh terhadap kebiasaan, adaptasi lingkungan, minat dan gaya belajar murid. sehingga perlu ada pendekatan yang berbeda pula dalam memberi tuntunan terhadap murid. Lebih jauh lagi, diperlukan strategi yang berbeda pula untuk memberikan bimbingan terhadap murid di kelas. Istilah "berdiferensiasi" dalam kegiatan belajar di kelas juga mutlak diperlukan terhadap kondisi murid yang beragam juga di setiap kelas.

        Oleh karena itu, melibatkan nilai-nilai kearifan lokal dalam pendidikan juga sangat diperlukan. Dengan keterlibatan nilai sosial budaya setempat maka pendidikan akan dihadirkan sesuai kebutuhan yang benar-benar di perlukan dalam kehidupan nyata (kontekstual). Sejalan dengan hal ini, Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih budaya. Selain itu, memperhatikan kondisi zaman saat ini adalah salah satu hal yang harus dipertimbangkan dengan bijak. Anak-anak generasi saat ini sangat dekat sekali dengan teknologi informasi dan komunikasi. Tak heran bila sentuhan teknologi menjadi hal yang sangat akrab dalam setiap aspek kehidupan mereka. Ditambah lagi tantangan globalisasi saat ini perlu menjadi perhatian khusus bagi para pendidik untuk mempersiapkan anak didik kita dengan kecakapan abad 21. 

2. Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

        Setelah membaca dan menghayati pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai pendidikan, saya sebagai seorang guru merasa perlu melakukan perubahan dasar dalam memberikan pelayanan pendidikan kepada murid-murid di sekolah. Perlu merubah pola pokir kita bahwa saya harus mampu dan mau menghamba pada murid. Dalam artian, saya harus bisa memberikan pelayanan untuk memerdekakan murid dalam belajar di sekolah. Saya harus mampu membaca kebutuhan murid dalam belajar karena setiap murid meiliki gaya belajar dan kebutuhan yang berbeda anatara satu dengan yang lainnya.

        Oleh karena itu, saya akan melakukan asessmen diagnostik untuk mengetahui kebutuhan belajar murid yang berbeda dan mengetahui gaya belajar murid yang beragam. Dengan proses ini saya berharap bisa memberikan pelayanan kepada murid dengan maksimal. Selain itu, saya akan lebih banyak mendengar dan mengurangi hukuman-hukuman di ruang belajar. Membuat kesepakatan bersama mengenai proses kegiatan belajar mengajar bukan aturan yang saya buat dan harus ditaati murid seperti sebelumnya.

        Selain itu, saya akan lebih memperhatikan masalah kodrat alam dan kodrat zaman dalam setiap aktivitas belajar mengajar. Berusaha menghadirkan kegiatan belajar mengajar yang lebih kontekstual dan akrab dengan kehidupan murid. Saya akan lebih banyak melibatkan kondisi alam daerah pesisir dimana saya mengajar. Misalnya, membuat materi tentang teks deskripsi laut, tempat wisata bahari, dan prosedur pembuatan makanan khas daerah Melibatkan nilai-nilai sosial budaya ke dalam pembelajaran di kelas. Saya juga harus membuat ruang belajar sebagai tempat yang menyenangkan bagi murid untuk bermain dan belajar, berkolaborasi dan menggali pengetahuan dengan melibatkan teknologi, misalnya bermain scrabble online untuk meningkatkan kosakata (vocabulary) dalam Bahasa Inggris.


Saturday, October 15, 2022

Pendampingan dan Monev Program Organisasi Penggerak (POP) IGI Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan

    Dalam menjaga keberlangsungan dan kualitas kegiatan peningkatan kompetensi guru dalam hal ini Upgrading Diklat Sekolah Sasaran Program Organisasi Penggerak (POP), Ikatan Guru Indonesia (IGI) melaksanakan kegiatan Pendampingan dan Monev. Kegiatan ini dilakukan serentak mulai tanggal 1 sampai dengan 15 Oktober 2022 di seluruh pelosok Daerah Sasaran POP.
    Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan melakukan kegiatan Pendampingan dan Monev Program Organisasi Penggerak (POP) selama 2 hari. Dimulai pada hari Jumat, 14 Oktober 2022 sampai dengan hari Sabtu, 15 Oktober 2022. Kegiatan selama dua hari ini difokuskan pada tiga sekolah sasaran yaitu SDN Sungai Taib, SDN Dirgahayu 1, dan SDS Muhammadiyah 2 Kotabaru. Proses pendampingan dan monev diikuti oleh Panitia Pusat POP Ikatan Guru Indonesia. Pada kesempatan kali ini dihadiri oleh Bapak Ahmad Kamaluddin, pengurus pusat IGI selaku Sekretaris Direktur Advokasi dan Perlindungan Guru IGI.

    Keterlibatan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kotabaru juga memiliki peran yang penting. Oleh karena itu, panitia daerah POP IGI Kabupaten Kotabaru melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Dukungan Kadisdikbud H. Selamat Riyadi, S.Pd., M.Ed. sangatlah penting dalam kegiatan ini. Dengan dukungan dari Disdikbud Kotabaru, peran serta Kepala Sekolah dan Guru Sasaran sangat berarti.

    Di hari pertama, kegiatan dipusatkan di SDN Sungai Taib, Kecamatan Pulau Laut Utara. Sasaran yang didampingi adalah Kepala Sekolah, Hj. Titik Diah Supartiningsih, S.Pd. dan guru kelas V, Wulan Sari, S.Pd. Kegiatan di hari pertama juga mendapat sambutan dari Koordinator Pengawas SD. Kegiatan dilakukan untuk melihat perkembangan hasil Diklat Upgrading yang dilaksanakan di bulan Juni 2022. Fasilitator Daerah (Fasda) melakukan bimbingan didampingi Tim Monev Pusat. 
    Di hari ke dua, kegiatan dipusatkan di SD Muhammadiyah 2. Sasaran yang didampingi adalah Kepala Sekolah, Lastiadi Muhtadin, S.Si, guru kelas V, Dina Wahdiyah, S.Pd., dan guru kelas IV, Wulan Afriliyanti, S.Pd. Kegiatan di hari ke dua juga tidak kalah dengan hari pertama. Kreativitas guru sangat tampak dalam penggunaan teknologi. Siswa belajar dengan menggunakan aplikasi Canva untuk membuat poster materi pelajaran. Suasana kelas yang aktif dan antusias tampak mendominasi kegiatan belajar di sekolah. 
    Tentunya kegiatan Pendampingan dan Monev POP di Kabupaten Kotabaru tak lepas dari peran panitia Daerah dan Fasilitator Daerah. Kegiatan tersebut diketuai oleh Dian Mardhika, S.Pd yang sekaligus Ketua IGI Kab. Kotabaru. Novita Kumalasari, S.Pd (Sekretaris) dan 2 orang anggota Masrufah, S.Pd. dan Sartika Dewi, S.Pd. Kegiatan tersebut juga difasilitasi oleh Budi Hartono, M.Pd. (Fasda Kepala Sekolah), H. Syahriani, S.Pd., MM. (Fasda Guru Kelas V) dan Taufik Junaidie, S.Pd. (Fasda Guru Kelas IV).



Friday, November 19, 2021

POP IGI Kabupaten Kotabaru : Bergerak Menaklukkan Tantangan

 

Program Organisasi Penggerak (POP) adalah agenda Kemendikbud episode ke-4. Program ini melibatkan organisasi dan relawan pendidikan untuk ikut serta meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan sehingga mampu menciptakan peserta didik yang memiliki kompetensi yang hebat sesuai tuntutan zamannya.

Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan telah melaksanakan kegiatan "Pelatihan Peningkatan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan" mulai tanggal 13 - 18 November 2021. Dengan sekolah sasaran sebanyak 13 sekolah jenjang SD. Dari tiap sekolah sasaran, peserta yang mengikuti kegiatan adalah Kepala Sekolah, Guru Kelas V, dan Guru Kelas IV. Total semuanya sebanyak 39 peserta. Peserta didampingi oleh 3 orang Instruktur Daerah (ID) yang merupakan anggota terbaik IGI Kabupaten Kotabaru.

Kagiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kotabaru, Selamat Riyadi, S.Pd., M.Ed. pada hari Sabtu, 13 November 2021. Kadisdikbud Kotabaru menghimbau para peserta untuk serius mengikuti kegiatan dan menyukseskan kegiatan POP di Kabupaten Kotabaru. Harapan beliau adalah kegiatan ini mampu menjadi pemantik kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan kompetensi guru karena dengan adanya perbaikan kompetensi guru maka hal tersebut akan memberikan dampak positif terhadap kualitas pembelajaran dan sekaligus kualitas kompetensi peserta didik.

Dalam pelaksanaan kegiatan ini tentunya muncul tantangan yang harus diselesaikan oleh panitia daerah dan peserta sasaran program. Kondisi geografis Kabupaten Kotabaru yang berbentuk kepulauan menjadi sebuah tantangan tersendiri. Kotabaru terletak di wilayah terluar dari provinsi Kalimantan Selatan. Ditambah lagi dengan kondisi jaringan internet dan telekomunikasi yang kurang stabil dan adanya beberapa peserta yang masih belum terbiasa menggunakan perangkat teknologi.

Kegiatan POP IGI dilaksanakan secara daring, baik sinkronus maupun asinkronus. Kegiatan sinkronus dilaksanakan melalui platform Zoom Meeting sedangkan kegiatan asinkronus dilaksanakan melalui Learning Management System (LMS). Kedua moda daring ini tentunya sangat tergantung dari kondisi jaringan saat kegiatan berlangsung. Sehingga ketika ada peserta yang mengalami kendala jaringan internet, maka ID berusaha untuk memberikan kelonggoran waktu pelaksanaan dengan memberikan rekaman pertemuan di zoom meeting. Peserta yang tertinggal dalam tatap maya secara langsung bisa menyaksikan rekaman pertemuan untuk menerima penjelasan materi dan informasi kegiatan lainnya yang diberikan ID.

Program kegiatan POP IGI Kabupaten Kotabaru menekankan pada pemahaman dan ketrampilan peserta tentang literasi, numerasi, dan penanaman karakter peserta didik. Komponen tersebut menjadi materi yang diberikan sehingga diharapkan ada perbaikan kualitas proses pembelajaran yang muaranya akan terjadi perbaikan hasil belajar siswa. Peserta pelatihan diharapkan mampu meningkatkan kompetensi peserta didik dengan membekali mereka kecakapan hidup abad 21. Disamping itu, keberhasilan program peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan melalui program POP IGI ini akan diukur melalui keberhasilan hasil capaian Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dari sekolah sasaran yang telah menerima pelatihan.

Keberhasilan kegiatan POP ini tentu membutuhkan dukungan semua pihak. Para pemangku kepentingan dalam pendidikan harus bersinergi dalam membentuk ekosistem pendidikan yang berkualitas. Para guru juga diharapkan memiliki sikap pembelajar sepanjang hayat. Guru diharapkan juga bersifat adaptif terhadap perubahan zaman. Dengan terus belajar dan memperbaiki kompetensinya, nicaya pendidikan di Indonesia dan di Kotabaru khususnya akan menjadi lebih baik. Guru dengan kompetensi yang baik akan menghasilkan peserta didik yang berkarakter baik dan memiliki kompetensi unggul dalam menghadapi tantangan zamannya. 

Friday, March 19, 2021

MGMP BERDAYA, GURU BERJAYA

 

Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) adalah sebuah wadah bagi para guru untuk berbagi pengetahuan, solusi masalah pembelajaran dan peningkatan kompetensi guru. Oleh karena itu, MGMP memiliki peranan yang sangat penting bagi seorang guru. Kolaborasi adalah kata kunci bagi kemajuan pendidikan. Kerjasama yang baik antara sesama guru mata pelajaran akan memberikan manfaat yang sangat besar. Hal ini dikarenakan tantangan pendidikan saat ini sangat beragam. Tentu dengan berbagi pengalaman, strategi dan solusi bersama teman sejawat, guru akan memiliki banyak pilihan untuk menentukan langkah yang harus ditempuh guna menyelesaikan persoalan pembelajaran.

IKATAN GURU INDONESIA (IGI)

       Ikatan Guru Indonesia adalah organisasi pendidikan yang beranggotakan guru, dosen, dan pemerhati pendidikan di Indonesia. Lembaga ini didirikan pada tanggal 26 November 2009 dan disahkan oleh Kementerian Hukum dan HAM dengan Surat Keputusan Nomor AHU-125.AH.01.06 Tahun 2009.

Thursday, March 18, 2021

SOAL EXPLANATION

 Soal online untuk uji kompetensi memahami tek explanation untuk kelas XI (Token: 123)

Materi Sastra Inggris Kelas X

 Materi Bahasa Inggris Lintas Minat (Sastra Inggris) Kelas X